Rabu, 16 Maret 2011

PENGENALAN NILAI BUDAYA DAN ETIKA BAGI MAHASISWA

A. TUJUAN

Penyajian materi pada bab ini bertujuan untuk dapat menumbuhkan kesadaran dan pemahaman mahasiswa terhadap hal berikut ini.
 Kebudayaan, nilai, dan etika.
 Tatakrama di kampus perguruan tinggi dan etika keilmuan.
 Hak dan kewajiban sebagai mahasiswa di perguruan tinggi.

B. MATERI

 Nilai Budaya
Setiap negara mempunyai sistem nilai (filsafat) tertentu yang menjadi pegangan bagi anggota masyarakat, bangsa negara tersebut. Filsafat negara merupakan pandangan hidup bangsa yang diyakini kebenarannnya dan diaplikasikan dalam kehidupannya. Pandangan hidup bangsa merupakan nilai-nilai yang dimiliki bangsa tersebut. Nilai-nilai tersebut akan mempengaruhi segala aspek kebudayaan suatu bangsa. Nilai adalah suatu konsepsi yang secara eksplisit maupun implisit menjadi milik atau ciri khas seseorang atau masyarakat. Pada konsep tersembunyi bahwa pilihan nilai merupakan suatu ukuran atau standar yang memiliki kelestarian yang secara umum digunakan untuk mengorganisasikan sistem tingkah laku suatu masyarakat (Prayitno, 1989:1).
Sistem nilai yang dianut suatu bangsa merupakan sistem nilai masyarakat budaya bangsa. Sistem nilai budaya adalah rangkaian konsep mengenai sesuatu yang dianggap penting dan berharga, serta dapat pula dianggap remeh dan takberharga dalam pikiran sebagian besar warga suatu masyarakat atau bangsa. Dengan demikian, fungsi sistem nilai budaya adalah sebagai pedoman dan pendorong warga masyarakat dalam bertingkah laku. Dalam hal ini, berarti sistem nilai budaya berfungsi sebagai tata kelakuan (Prayitno, 1989:1).
Bagi suatu bangsa, sistem nilai budaya merupakan sumber dari segala sumber hukum yang berlaku dalam suatu masyarakat, bangsa, dan negara. Oleh karena itu, nilai budaya berfungsi dalam menentukan pandangan hidup suatu masyarakat dalam menghadapi suatu masalah, hakikat dan sifat
hidup, hakikat kerja, hakikat kedudukan manusia, etika dan tata krama pergaulan dalam ruang dan waktu, serta hakikat hubungan manusia dengan manusia lainnya (Prayitno, 1989:2).
Kebudayaan akan terus berubah karena sistem nilai budaya juga mengalami perubahan. Perubahan suatu budaya disebabkan terjadinya transformasi budaya karena akibat kontak budaya. Nilai budaya yang dipertahankan adalah nilai pokok yang menjadi identitas budaya suatu masyarakat serta menjadi kebanggaan masyarakat pendukungnya. Nilai budaya tradisional dapat berubah dan dapat pula diubah, dapat bertahan atau dipertahankan sejauh masyarakat bersepakat melakukannya.
Bangsa Indonesia merupakan masyarakat yang beragama. Nilai keagamaannya itu akan menjadi payung dalam setiap kehidupan berbudaya suatu bangsa. Sikap hidup yang menganut paham sekuler (yang memisahkan kehidupan berbudaya dengan kehidupan beragama) bukanlah sikap budaya bangsa Indonesia. Nilai budaya bangsa Indonesia adalah nilai budaya yang agamais.


1. Kebudayaan Global
Kebudayaan global muncul setelah ditemukannya berbagai media komunikasi dan informasi yang canggih. Peristiwa ini terjadi akibat revolusi dalam bidang komunikasi dan informasi. Melalui media yang canggih tersebut dunia menjadi kampung besar (gobal village). Kebudayaan global ini secara pasti akan mewarnai masyarakat Indonesia yang mau tidak mau akan terlibat dalam isu-isu global, seperti: keterbukaan, kesamaan hak (equity), hak asasi manusia (humans rigshts), pemberdayaan (empowering) masyarakat, lingkungan hidup, demokrasi, dan hak intelektual (intellectual property rights).
Kebudayaan global tentu memiliki nilai-nilai global. Nilai-nilai ini bisa disebarluaskan pada tingkat global apabila nilai tersebut memiliki tingkat rasionalitas dan historitas yang tinggi. Rasionalitas berarti nilai tersebut bernuansa sekuler (tidak dibebani norma-norma agama tertentu sehingga mudah diterima oleh semua kalangan), mudah dicerna oleh siapa saja. Historitas mengandung makna bahwa nilai tersebut terdokumentasi dengan cepat. Inti dari kebudayaan global adalah keterbukaan. Proses globalisasi yang dikatakan dapat mempertajam (class of civikreations) juga dapat mengakibatkan perusakan berat


terhadap peradaban, kemasyarakatan, dan kesadaran etnis (Swasono, 2004), serta nilai-nilai budaya lokal yang dianut sekelompok masyarakat tertentu. Oleh karena itu ketahanan mental, sikap kritis, dan nilai-nilai agama perlu menjadi perhatian yang serius dalam mencermati dan membentengi pengaruh negatif kebudayaan global.

3. Kebudayaan Lokal
Kebudayaan lokal sering pula disebut kebudayaan etnis atau folklore (budaya tradisi). Kebudayaan lokal ini tersebar di seluruh wilayah Indonesia yang didukung oleh masyarakat adat yang bersangkutan. Oleh karena bersifat kedaerahan, maka sering dikatakan budaya daerah. Folklore adalah sebagian kebudayaan dalam suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun- temurun secara tradisional dalam versi yang berbeda dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (Danandjaja, 1994 : 2). Untuk membedakan folklore dengan budaya lainnya dapat diketahui melalui ciri-cirinya yaitu:
a. penyebaran dan pewarisan dilakukan secara lisan;
b. bersifat tradisional;
c. eksistensinya dalam versi yang berbeda-beda;
d. bersifat anonim;
e. mempunyai bentuk yang sudah terpola;
f. mempunyai berbagai fungsi dalam kehidupan bersama;
g. bersifat pralogis (mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai dengan logika umum);
h. menjadi milik bersama dari kelompok etnis tertentu dan menjadi kebanggaan masyarakat pendukungnya; dan.
i. pada umumnya bersifat polos dan lugu, sehingga sering kali terasa kasar, terlalu spontan.

Kebudayaan lokal adalah jati diri bangsa karena berakar dalam budaya masyarakat pendukungnya. Oleh karena itu perlu dilestarikan dan dikembangkan. Pelestariannya juga merupakan ketahanan budaya. Sebagai ketahanan budaya, agar dalam pengaruh dan pancaroba globalisasi, akulturasi, dan komunikasi lintas budaya bangsa ini dapat memelihara eksistensinya serta tidak kehilangan jati diri, harga diri

ataupun sejarah peradabannya (Swasono, 2004). Dalam hai ini memperkokoh

kesadaran akan pentingnya budaya lokal dan mempertahankan jati iri merupakan hal yang perlu dilakukan sebagai bangsa yang beradab dan sejajar dengan bangsa lain di dunia.
Indonesia memiliki beragam budaya lokal yang menjadi aset dan kebanggaan bangsanya yang tidak ada pada bangsa lain. Kebanggaan akan budaya lokal adalah sikap yang perlu ditumbuhkembangkan apalagi bagi mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa.
Budaya lokal pasti mengalami perubahan. Namun, apapun bentuk perubahannya sebagai akibat akulturasi dan globalisasi, yang perlu dicermati adalah jangan sampai menghilangkan jati diri serta tenggelam dalam arus globalisasi itu. Untuk itu diperlukan ketahanan budaya.
Kebudayaan lokal ini kita kenal sebagai kebudayaan daerah. Kebudayaan ini terdapat pada setiap daerah di Indonesia, seperti kebudayaan Aceh, Batak, Melayu, Minangkabau, Kerinci, Jambi, Palembang, Bengkulu, Lampung, Sunda, Betawi, Jawa, Bali, dan sebagainya.


4. Budaya Akademik (Kultur Peguruan Tinggi)

a. Pengertian Akademik
Kata akademik berasal dari bahasa Yunani yakni academos yang berarti sebuah taman umum (plasa) di sebelah barat laut kota Athena. Nama Academos adalah nama seorang pahlawan yang terbunuh pada saat perang legendaris Troya. Pada plasa inilah filosof Socrates berpidato dan membuka arena perdebatan tentang berbagai hal. Tempat ini juga menjadi tempat Plato melakukan dialog dan mengajarkan pikiran-pikiran filosofisnya kepada orang-orang yang datang. Sesudah itu, kata acadomos berubah menjadi akademik, yaitu semacam tempat perguruan. Para pengikut perguruan tersebut disebut academist, sedangkan perguruan semacam itu disebut academia.Berdasarkan hal ini, inti dari pengertian akademik adalah keadaan orang-orang bisa menyampaikan dan menerima gagasan, pemikiran, ilmu pengetahuan, dan sekaligus dapat mengujinya secara jujur, terbuka, dan leluasa (Fadjar, 2002 : 5).



b. Masyarakat Akademik
Perguruan tinggi merupakan suatu lingkungan pendidikan tinggi bukan merupakan lingkungan yang eksklusif. Dengan demikian, maka kampus merupakan komunitas atau masyarakat yang tersendiri yang disebut masyarakat akademik (academic community). Di dalam kampus terdapat kegiatan-kegiatan dan tata aturan yang lain dari yang lain. Oleh karena itu, kampus menjadi semacam lembaga akademik dan jalinan antarkampus memiliki suasana yang khas, yaitu suasana akademik (academic atmosphere) (Fadjar 2002 : 5). Ciri-ciri masyarakat akademik yaitu kritis, objektif, analitis, kreatif dan konstruktif, terbuka untuk menerima kritik, menghargai waktu dan prestasi ilmiah, bebas dari prasangka, kemitraan dialogis, memiliki dan menjunjung tinggi norma dan susila adademik serta tradisi ilmiah, dinamis, dan berorientasi kemasa depan.
c. Kegiatan Akademik
Kegiatan akademik meliputi tugas-tugas yang dinyatakan dalam program perkuliahan, seminar, praktikum, kerja lapangan, penulisan skripsi, tesis, dan disertasi. Dalam satu kegiatan akademik diperhitungkan tidak hanya kegiatan tatap muka yang terjadwal saja tetapi juga kegiatan yang direncanakan (terstruktur) dan yang dilakukan secara mandiri.
d. Pendidikan Akademik dan Pendidikan Profesional
Pendidikan akademik adalah pendidikan tinggi yang diarahkan terutama pada penguasaan ilmu pengetahuan dan pengembangannya. Pendidikan profesional adalah pendidikan tinggi yang diarahkan terutama pada kesiapan penerapan keahlian tertentu (keterampilan khusus) yang merupakan kecakapan langsung yang praktis.
e. Kebebasan Akademik
Kebebasan akademik termasuk kebebasan mimbar akademik dan otonomi keilmuan merupakan kebebasan yang dimiliki anggota sivitas academika untuk melaksanakan kegiatan yang terkait dengan pendidikan dan pengembangan teknologi dan seni secara bertanggung jawab dan mandiri




dalam melaksanaan kebebasan akademik. Setiap anggota sivitas academika harus bertanggung jawab secara pribadi atas pelaksanaan dan hasilnya sesuai dengan norma dan kaidah keilmuan. Menurut William Brickman (dalam Fadjar, 2002 : 6) menjelaskan bahwa kebebasan akademik adalah hak seorang dosen untuk mengajar serta hak seorang mahasiswa untuk belajar tanpa adanya pembatasan dan dengan hal-hal yang tidak syah. Kebebasan akademik bagi mahasiswa meliputi: hak untuk memperoleh pengajaran yang benar, hak untuk membangun pandangan sendiri atas dasar studi yang dilakukan, hak untuk mendengarkan dan menyatakan pendapat, serta hak untuk menyebarkan hal-hal yang rasional sebagai buah dari telaah yang dilakukannya (Fadjar, 2002 : 7).
Selain itu juga dikenal istilah kebebasan mimbar akademik, yakni kebebasan yang dimiliki dosen untuk menyampaikan pikiran dan pendapat melalui forum akademik di perguruan tinggi sesuai dengan norma dan kaidah keilmuan. Kebebasan mimbar akademik adalah sebagaian dari kebebasan akademik. Kebebasan mimbar akademik dilaksanakan dalam pertemuan ilmiah dalam bentuk seminar, ceramah, simposium, diskusi panel, dan ujian dalam rangka pelaksanaan pendidikan akademik dan / atau profesional.
Kebebasan mimbar akademik dapat pula dilaksanakan di luar perguruan tinggi yang bersangkutan. Perguruan tinggi dapat mengundang tenaga ahli dari luar perguruan tinggi tersebut untuk menyampaikan pikiran dan pendapat sesuai dengan norma kaidah keilmuan dalam rangka pelaksanaan kebebasan mimbar akademik.

f. Otonomi Keilmuan
Otonomi keilmuan adalah kebebasan yang dimiliki dosen untuk mengembangkan ilmu, teknologi dan / atau kesenian sesuai dengan norma dan kaedah keilmuan. Program pendidikan, kegiatan penelitian dan kegiatan pengabdian pada masyarakat diselenggarakan dengan menjunjung tinggi kebebasan akademik, mimbar akademik dan otonomi keilmuan, berlandaskan nilai-nilai kebangsaan dan ketaqwaan.



g. Forum Akademik
Forum akademik adalah pertemuan sekolompok warga sivitas academika yang terjadwal untuk membahas secara ilmiah tentang sesuatu topik dengan tujuan menumbuhkan dan memupuk kemampuan, sikap ilmiah dan sikap profesional melalui pemahaman yang lebih objektif tentang topik yang dibahas. Kegiatan forum akademik meliputi penyampaian dan pembahasan hasil penelitian, inovasi, bahasan literatur, isyu-isyu dalam masyarakat hasil pengamatan terhadap sesuatu studi kasus hasil karya ilmiah, dengan pendekatan disiplin ilmu tertentu.

h. Etika dan Tatakrama

1) Pengertian Etika dan Tatakrama
Istilah Etika berasal dari bahasa Prancis yakni Etiquete (etika) yang berarti tata pergaulan yang baik antara manusia atau peraturan/ketentuan yang menetapkan tingkah laku yang baik dalam hubungan dengan orang lain. Istilah yang sepadan dengan etika seperti tatakrama, tata sopan santun, norma sopan santun, tata cara bertingkah laku yang baik, perilaku yang baik dan menyenangkan. Kata tatakrama berasal dari kata tata yang berarti adat aturan atau norma, sedangkan kata krama berarti sopan santun, kelakuan, tindakan dan perbuatan, sedangkan kata pergaulan menunjukkan hubungan manusia dengan manusia lain. Dengan demikian pengertian etika dan tatakrama pergaulan berarti sopan santun atau tata sopan santun antarsesama manusia.
Terdapat lima macam norma utama yang menentukan kehidupan manusia yaitu norma agama, norma hukum, norma pandangan hidup atau falsafah, norma adat, dan norma ilmu pengetahuan. Masing-masing norma bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri akan tetapi saling berkontribusi dan saling mempengaruhi.






2) Etika Keilmuan
Sebagai mahasiswa, dalam kegiatan akademik Anda akan disibukkan dengan pembutan tugas-tugas akademik secara tertulis, baik berupa makalah, kertas

kerja atau proyek. Dalam pembuatan tugas ini, biasanya mahasiswa sering mendapatkan kesuulitan yang sebenarnya disebabkan oleh tidak seriusnya mahasiswa tersebut dalam belajar. Hal tersebut berakibat pada prosese pembuatan tugas yang seenaknya dan jatuh pada kasus mencontek atau menjiplak dengan teknik “copy & paste”. Dalam dunia akademik dan keilmuan hal ini merupakan sesuatu yang sangat memalukan dan “haram” hukumnya. Oleh karena itu mahasiswa sebagai insan akademik harus tidak melibatkan diri dalam perbuatan curang yang merupakan aib dalam dunia perguruan tinggi ini.

3) Etika di dalam Kelas
Proses belajar mengajar di dalam kelas mempunyai etika tersendiri. Untuk itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh mahasiswa, yaitu:
. Masuklah ke dalam kelas dan duduklah pada tempat yang disediakan sebelum dosen masuk.
. Duduklah dengan tenang dan jangan melakukan sesuatu yang dapat mengganggu ketenangan kelas. Jika Anda punya hp harus dimatikan di dalam kelas.
. Jangan memakan sesuatu didalam kelas.
. Ikutilah kegiatan perkuliahan dengan baik yang dibimbing oleh dosen.
. Berperan aktiflah di dalam kelas, terutama dalam kegiatan diskusi.
. Minta izinlah kepada dosen bila ingin meninggalkan kelas untuk keperluan yang sangat penting saja.
. Gunakanlah Bahasa Indonesia dan bahasa asing yang baik dan benar dalam interaksi di dalam kelas.
. Palailah pakaian yang sesuai dengan etika yang tercantum dalam tatakrama berbusana dan berdandan dalam bab ini.






4) Etika Masuk Kantor

Bagi mahasiswa, yang perlu diperhatikan bila masuk kantor adalah:
 Perhatikan situasi di kantor, apakah sedang sibuk atau tidak, apakah pimpinan, dosen, atau karyawan yang ingin kita hubungi sedang berurusan atau tidak
 Pakailah pakaian yang pantas dan sopan ketika masuk kantor dan harus bersepatu (lihat poin 6.a dalam bab ini
 Bila situasi memungkinkan, berilah ucapan selamat yang cocok, seperti Assalamualaikum, selamat siang dan sebagainya.
 Masuk dan duduklah dengan sopan di tempat yang telah tersedia setelah dipersilahkan.
 Perhatian agar ditujukan sepenuhnya kepada mitra berbicara, bukan kepada yang lain, dan jangan melihat ke kiri, ke kanan, atau ke bawah.
 Berbicaralah seperlunya, tidak terlalu lama, mengingat kesibukan yang ada di kantor itu, terutama dengan orang mitra berbicara kita.
 Bila telah selesai, jangan lupa mohon diri sebelum meninggalkan tempat.
Hindarilah berurusan dengan dosen, ketua jurusan, atau dekan di luar kantor dan jam dinas kerjanya (seperti di jalan, di rumah atau di kafe). Secara umum, berurusanlah di kantor.

5) Etika Bertamu ke Rumah Teman :

Perhatikanlah hal-hal di bawah ini bila bertamu kerumah teman:
 Waktu bertamu sedapat mungkin dibatasi, mengingat teman yang kita kunjungi mungkin punya tugas-tugas tertentu yang harus diselesaikan atau dikerjakan walaupun keinginan bertamu masih ada.
 Bila datang dengan kendaraan, hindari untuk membunyikan tuter di muka rumah yang kita datangi, atau membesarkan suara mesin kendaraan karena hal ini dapat mengganggu dan bahkan menjengkelkan orang yang punya rumah atau tetangga sekitarnya.
 Ketoklah pintu dengan sopan, tidak terlalu keras, atau tekanlah bell (jika ada) dengan tidak terlalu lama



sehingga tidak mengejutkan atau menjengkelkan yang punya rumah.
d) Hindarilah bertamu pada malam hari, terutama di atas jam 9.00 malam.
e) Jika teman anda berlawanan jenis, bawalah teman lain ketika anda akan bertamu ke rumahnya. Hal ini perlu untuk menghindari fitnah yang akan timbul dari orang-orang di sekitar kita.
6) Etika Bertamu ke Rumah Dosen/Pimpinan
Perhatikanlah hal-hal berikut ini kalau Anda sebagai seorang mahasiswa harus berkunjung ke rumah seorang dosen atau pimpinan:

 Sebaiknya kita memberi tahu terlebih dahulu dan meminta waktu untuk berkunjung (membuat janji atau appointment) karena kedatangan yang mendadak tanpa ada perjanjian bisa mengecewakan kita yang datang karena mendapatkan orang yang sedang tidak dirumah. Bagi yang dikunjungi, bisa timbul rasa tidak senang karena kemungkinan yang bersangkutan sudah mempunyai acara tertentu, dan hal ini tentu merupakan gangguan.
 Bila janji sudah dibuat, usahakanlah datang pada waktu yang sudah ditentukan (tepat waktu). Sekiranya tidak ada janji sebelumnya, sedangkan kita perlu menemui dosen atau pimpinan di rumahnya, usahakan datang pada saat yang menurut lazimnya tidak akan sangat mengganggu. Misalnya, kita pertimbangkan jam istirahat (jam tidur), jam makan, jam sholat, dosen yang akan kita kunjungi. Hindari pertemuan yang menyita waktu terlalu lama.
 Ketoklah pintu dengan cara yang sopan, atau tekanlah bell seperlunya, tidak terlalu lama dan tidak pula bertubi-tubi
 Ucapkanlah salam yang pantas di saat kita telah dilayani, waktu kembali, jangan lupa menyampaikan terima kasih atas kesediaannya menerima Anda.


6) Tatakrama Penampilan
Penampilan seseorang biasanya memberikan kesan langsung pada orang lain. Oleh sebab itu, perhatian khusus terhadap cara dan kebiasaan-kebiasaan penampilan seyogianya tidaklah diremehkan. Kesadaran dan ketajaman perasaan kita atas adat kebiasaan, sehingga secara sosial kita dapat diterima. Di bawah ini disajikan beberapa pedoman yang mungkin bermanfaat bila mahasiswa dapat mengamalkannya dengan penuh pengertian dan kesadaran.

a) Tatakrama Berbusana dan Berdandan
Pakaian berfungsi sebagai penutup tubuh, memberikan daya tarik dan sebagai refleksi kepribadian seseorang. Kepribadian adalah keseluruhan kualitas seseorang individu yang selalu harus diperlihara dan ditingkatkan. Untuk berbusana yang baik, kriteria atau faktor-faktor yang perlu menjadi perhatian: a) bentuk tubuh, b) warna kulit/pakaian, c) waktu berpakaian, d) kesempatan, e) ekonomi, dan f) fungsi. Cara berpakaian untuk pergi kuliah berbeda dengan berpakaian sewaktu masih belajar di SLTA. Di perguruan tinggi, mahasiswa tidak terlalu terikat pada pakaian seragam, kecuali pada waktu-waktu tertentu seperti upacara perayaan nasional. Oleh karena itu perlu ada aturan yang dapat menjadi acuan atau pedoman dalam cara berpakaian sebagai seorang mahasiswa, terutama dalam waktu mengikuti kuliah di kampus.
(1) Pilihlah mode yang cocok dengan bentuk tubuh dan sesuai dengan norma-norma kesusilaan yang tinggi.
(2) Jangan memakai celana atau rok yang ketat sehingga memperlihatkan bentuk tubuh Anda
(3) Pakailah pakaian dari bahan katun atau polyster yang longgar dan menutupi bentuk tubuh Anda. Hindarilah memakai pakaian dari bahan kaos (T-shirt) karena kesannya tidak resmi dan terlalu santai. Bagi laki-laki sebaiknya Anda memakai kemeja dan celana panjang yang cocok untuk



(4) Pilihlah warna yang serasi, tidak mencolok dan tidak norak, sehingga kesannya tetap formal. Hindari juga pemakaian perhiasan berharga dan asesoris yang berlebihan seperti kalung, gelang tangan, gelang kaki dan anting-anting panjang seperti tampilan selebritis.
(5) Berpakaian dengan rapi, karena kerapian itu pun menunjukkan kepribadian kita. Ikat pinggang yang rapi, kancing baju/celana yang terpasang sebagaimana mestinya, tali sepatu yang tidak dibiarkan lepas, sepatu yang terpelihara kebersihannya dan sebagainya.
(6) Pilihlah jenis pakaian yang cocok dengan kegunaannya, seperti pakaian untuk kuliah, pakaian untuk olah raga, pakaian untuk pesta, untuk upacara, untuk di rumah, untuk tidur, untuk piknik dan sebagainya.
(7) Berdandanlah dengan pantas dan tidak berlebihan. Jangan memakai make-up berlebihan seperti akan menghadiri pesta serta memotong rambut dengan berbagai model mutakhir yang tidak menunjukkan kapasitas Anda sebagai seorang intelektual (contohnya rambut dengan potongan punk, diwarnai dengan warna yang tidak sesuai dengan warna rambut orang Indonesia: merah , kuning, atau hijau)

b) Tatakrama Berjalaan
Salah satu perbuatan manusia yang sangat banyak dilakukan adalah berjalan, baik berjalan sendirian, maupun berjalan bersama orang lain, terutama kalau teman berjalan itu adalah wanita. Berikut ini diberikan beberapa petunjuk tentang tatakrama berjalan.
(1) Saat ini pria berjalan bersama wanita sudah merupakan hal yang wajar. Namun demikian yang perlu dihindari ialah berjalan berdua-duaan di tempat yang sunyi dan gelap. Hal ini dapat
menimbulkan kecurigaan orang atau masyarakat yang melihat, apalagi kalau berpegangan tangan atau berangkulan.
(2) Apabila pria berjalan bersama wanita, beberapa orang, si pria hendaknya berjalan diposisi yang dianggap berbahaya. Tujuan tata krama yang begini adalah agar pihak wanita selalu berada diposisi yang terlindungi, misalnya berjalan di jalan raya pria seyogianya berjalan diposisi yang dekat ke jalan raya atau dekat ke kendaraan lalu lintas.
(3) Apabila pria bersama wanita menuju sebuah ruangan, restoran, gedung pertemuan atau gedung bioskop, wanita masuk atau keluar lebih dahulu.
(4) Bila berjalan beriringan di jalan yang sempit, misalnya wanita diberi jalan lebih dahulu, kecuali bila menaiki tangga, pria berjalan di muka. Disaat turun tangga, wanita berjalan lebih dahulu terutama kalau wanita tidak mengenakan celana panjang atau pakai kain.
c) Tatakrama Berbicara
Cara dan kebiasaan seseorang berbicara dengan orang lain sering pula menjadi ukuran bagi orang lain tentang kepribadiannya. Sebagai pedoman, dibawah ini diberikan beberapa butir petunjuk tentang tata krama berbicara:
(1) Berbicaralah selalu dengan sopan, baik kepada teman, pada dosen, dan terlebih lagi kepada orang tua kita sendiri. Walaupun dalam keadaan kesal dan penuh emosi, norma-norma kesopanan tetap bisa di pertahankan. Pilihlah kata-kata yang tepat dan menyenangkan.
(2) Dalam berkomunikasi dengan orang lain, topik pembicaraan, tidak hanya menarik bagi kita sendiri, tetapi pikirkan pula minat dan kesukaan orang lain, kesempatan bagi orang lain untuk berpartisipasi dalam pembicaraan itu juga harus dipertimbangkan.

(3) Mengingat negara kita terdiri dari ratusan suku bangsa atau ethnic group dengan bahasa-bahasa yang berbeda-beda pula, maka dalam berbicara secara berkelompok, bahasa yang digunakan juga harus menjadi perhatian pula. Gunakanlah bahasa yang dapat diterima oleh semua orang dalam kelompok itu atau gunakan bahasa nasional.
(4) Jangan membuang muka kepada lawan bicara, dan tunjukkan perhatian anda dalam kontak bicara.



d) Tatakrama Makan
Walaupun aktivitas makan sangat sering kita lakukan, akan tetapi makan bersama secara resmi atau formal perlu mendapat perhatian khusus karena disamping jarang kita alami, terdapat pula tata krama yang kadang-kadang membuat kita bingung dan kikuk. Berikut ini adalah beberapa butir petunjuk umum yang bisa digunakan sebagai pegangan:
(1) yang perlu kita ingat bahwa kita hendaknya menyesuaikan diri dengan kebiasaan atau adat istiadat diri dengan kebiasaan atau adat istiadat di tempat kita berada.
(2) Jika makan bersama di hidangkan di meja pakai kursi, bila hendak duduk usahakanlah masuk ke kursi dari arah kiri kursi, dan begitu pula hendak keluar. Tarik atau geserlah kursi dengan perlahan-lahan dan sesuaikan jaraknya dari meja.
(3) Apabila serbet makan disediakan, serbet tersebut kita buka dari lipatannya dan diletakkan dipangkuan agar makanan yang mungkin terjatuh tidak langsung kepakaian. Serbet tersebut juga dapat digunakan sebagai pengusap bibir, tetapi tidak untuk keperluan lain seperti penghapus keringat.
(4) Di waktu makan, cicipilah makanan dengan tidak berbunyi keras, dan usahakan agar kita tidak tersendawa di waktu sedang makan. Hindari pula berbicara yang terlalu banyak dan keras, terutama
dengan orang-orang yang duduk berjauhan dengan kita. Bicaralah seperlunya dan pelan-pelan dengan orang-orang yang berdekatan duduk.
(5) Angkatlah makanan dari piring dengan sendok atau garpu, bukan mulut yang didekatkan ke piring. Jika sop salah satu jenis hidangan, cicipilah sop itu terlebih dahulu, baru disusul dengan makanan yang lain. Menunggu hidangan selanjutnya, sendok dan garpu letakkan dipiring dan setelah selesai makan sendok dan garpu diletakkan tertelungkup.
(6) Jika kita terpaksa batuk atau bersin diwaktu sedang makan, tutuplah mulut dengan tangan atau serbet. Begitu pula jika kita hendak membersihkan gigi dari sisa makanan, gunakan tusuk gigi yang telah disediakan sambil menutup mulut kita dengan tangan atau serbet.
(7) Bila sudah hendak meninggalkan ruang makan, dekatkanlah kursi kembali ke meja seperti biasa.



(8) Biasakanlah berdoa atau mensyukuri nikmat Tuhan sebelum dan sesudah makan menurut agama kita masing-masing. Apabila makan resmi bersama dihidangkan atau dilayani dengan cara France dinner makanan dan minuman diambil sendiri-sendiri (self sevice). Tempat duduk untuk makan dapat dipilih secara bebas atau makanan dapat dicicipi sambil berdiri. Selesai makan dan minum, piring dan gelas yang kita gunakan di letakkan ketempat yang sudah disediakan.
e) Tatakrama Menggunakan Hand Phone (HP)
HP merupakan alat komunikasi yang paling banyak digunakan oleh semua kalangan, baik masyarakat umum maupun masyarakat kampus. Saat ini HP merupakan alat yang menjadi kebutuhan sehari-hari. Dalam penggunaannya, HP adakalanya dapat mengandung resiko dan dapat pula mengganggu suasana yang dapat mengusik

ketenangan orang lain. Berikut ini diberikan petunjuk jika anda menggunakan HP:
(1) Pergunakanlah HP seperlunya dan tidak terkesan seperti membanggakan diri.
(2) Berbicaralah melalui HP dengan baik dan bahasa yang sopan.
(3) Jangan menghidupkan HP di dalam kelas dan pada tempat-tempat pertemuan formal (seminar, diskusi, ceramah, dll) atau acara keagamaan (dalam mesjid, atau di ruangan biasa)
(4) Jangan melakukan pembicaraan lewat HP pada waktu di atas mobil atau motor karena beresiko kecelakaan dan mengundang kejahatan.
(5) Simpanlah HP anda pada tempat yang aman agar tidak mudah diambil orang.





f) Tatakrama Penggunaan Fasilitas Umum
Pemakaian fasilitas umum seperti: pesawat telepon umum, WC umum, kolam renang, taman umum, kotak pembuangan sampah da sebagainya hendaklah dapat digunakan dan dipelihara pemakaiannya. Dengan demikian, fasilitas umum tersebut dapat meringankan beban orang yang membutuhkan, lingkungan dapat terpelihara, kesehatan dapat lebih terjamin, dan biaya pengadaan dan pemeliharaannya bisa lebih dihemat.
g) Tatakrama Berlalu Lintas
Transportasi merupakan sarana yang sangat penting dan semakin teras peranannya dari hari kehari. Bagi yang punya kendaraan sendiri, patuhilah segala peraturan lalu lintas dan manfaatkanlah rambu-rambu lalu lintas yang ada demi keselamatan si pengendara itu sendiri serta keselamatan orang lain. Kelalaian sedikit saja dapat menimbulkan akibat yang sangat fatal, dan tentulah ini sangat tidak kita harapkan. Jangan memacu kendaraan terlalu kencang melebihi kecepatan 20 km/jam di dalam kampus.


. Sikap menghargai Orang lain
Sikap menghargai orang lain perlu dipelihara dan dipupuk secara terus-menerus. Dengan demikian, kehidupan bermasyarakat yang penuh keharmonisan dan ketenangan bisa tercipta. Sikap “tenggang rasa” adalah salah satu yang perlu perhatian tersendiri. Penggunaan pesawat radio, TV, tape recorder, pesawat CB dan sejenisnya, kendaraan, alat-alat musik dan sebagainya, hendaknya dapat diatur sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu ketenangan orang lain. Kalau kebetulan ada yang ingin merokok disamping orang-orang yang tidak perokok, sebaiknya minta izinlah terlebih dahulu kepada orang tersebut, karena ada kemungkingan tidak suka orang lain merokok didekatnya. Ditinjau dari aspek kesehatan, orang yang duduk dekat orang yang sedang merokok dianggap pula sebagai yang sedang merokok dan itu dinamakan perokok pasif. Bila ada ruang khusus untuk merokok, sebaiknya merokoklah di tempat itu karena tidak akan mengganggu orang lain. Disamping itu, hindarilah kebiasaan membuang abu dan puntung rokok di sembarang tempat. Gunakanlah tempat yang disediakan.
Tatakrama Berbangsa
Banyak sekali yang dapat dibicarakan mengenai tata krama berbangsa ini. Misalnya dalam mengikuti upacara-upacara resmi. Jadikanlah kebiasaan untuk menghadiri upacara resmi pada waktunya, karena setiap keterlambatan biasanya mengganggu kekhidmatan upacara tersebut. Ikutilah upacara bendera dengan sungguh-sungguh dan khidmat, dan hindari berbicara apapun selama upacara bendera. Disaat menyanyikan lagu kebangsaan, berdiri dan bersikaplah sebagaimana mestinya, dan ikutlah menyanyikan lagi kebangsaan Indonesia Raya. Hindari setiap perbuatan yang dapat mengganggu kekhidmatan upacara (Syahnur 1991 : 61 – 68).



i. Hak dan Kewajiban Mahasiswa
Hak merupakan kewenangan dan kekuasaan yang benar atas sesuatu yang diatur oleh undang-undang. Kewajiban adalah sesuatu yang harus dilaksanakan berdasarkan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

1) Hak Mahasiswa

Mahasiswa mempunyai hak:
. Menggunakan kebebasan akademik secara bertanggung jawab untuk menuntut dan mengkaji ilmu, teknologi dan atau kesenian sesuai dengan norma dan susila yang berlaku dalam kegiatan akademik.
. Memperoleh pengajaran sebaik-baiknya dan layanan bidang akademik sesuai dengan minat, bakat kegemaran dan kemampuan
. Memanfaatkan fasilitas universitas, fakultas, program studi dan/atau sarana penunjang dalam rangka kelancaran proses belajar.
. Mendapat bimbingan dosen yang bertanggung jawab atas program studi yang diikuti dalam penyelesaian studi
. Memperoleh layanan informasi yang berkaitan dengan program studi yang diikuti serta hasil-hasil belajarnya
. Memperoleh layanan bimbingan dan konseling
. Menyelesaikan studi lebih awal dari jadwal yang ditetapkan sesuai dengan persyaratan yang berlaku
. Memperoleh layanan kesejahteraan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku
. Memanfaatkan sumber daya universitas dan unit-unitnya yang ada melalui perwakilan/organisasi kemahasiswaan untuk menyusun dan mengatur kesejahteraan, minat, kegemaran dan tata kehidupan bermasyarakat.
. Pindah keperguruan tinggi lain atau jurusan atau program studi yang hendak dimasuki, bilamana daya tampung ditempat yang baru itu memungkinkan dan sesuai pula dengan aturan yang berlaku.


. Ikut serta dalam setap organisasi mahasiswa di universitas
. Memperoleh pelayanan khusus bilamana menyandang cacat.
. Memperoleh kesempatan untuk membela diri dan segala hal yang dipersalahkan.

2) Kewajiban mahasiswa
Setiap mahasiswa berkewajiban untuk:
. memenuhi semua peraturan/ketentuan yang berlaku pada universitas dan unit-unit yang ada didalamnya.
. Ikut memelihara sarana dan prasarana serta kebersihan ketertiban dan keamanan universitas serta unit-unit yang ada di dalamnya.
. Ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan, kecuali bagi mahasiswa yang dibebaskan dari kewajiban tersebut sesuai dengan peraturan yang berlaku
. Menghargai ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian
. Menjaga kewibawaan dan nama baik universitas dan unit-unit yang ada di dalamnya.
. Menjunjung tinggi kebudayaan nasional dan daerah.

C. METODA PENYAMPAIAN
Materi dapat disampaikan dengan metoda ceramah, diskusi dan simulasi.

D. TINGKAT PELAKSANAAN
Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada tingkat fakultas sesuai dengan gugus yang telah ditentukan.

2 komentar:

  1. iya saya juga minta daftar pustakanya. maaf, apakah berkenan memberikan? tolong kirimke frenkywachidastis@gmail.com

    BalasHapus